Operasi LAPAROSCOPY

Ini adalah pengalaman Laparoscopy saya untuk mengangkat kista coklat, dan memperbaiki saluran tuba yang buntu.


Laparoscopy adalah sebuah tindakan medis untuk meneropong dan memperbaiki organ yang mengalami masalah. Tindakan ini semacam operasi ringan yang memerlukan 3-4 lubang pada bagian pusar dan sekitar perut, sebagai sarana untuk memasukkan alat teropong semacam kamera kecil dan alat lain untuk menunjang jalannya operasi.

Jadi, dokter akan melakukan pembedahan dengan cara memantaunya lewat kamera yang dimasukan ke dalam perut yang tersambung ke layar monitor. Karena dalam Laparoscopy hanya membutuhkan lubang-lubang yang tergolong kecil, jadi untuk masa penyembuhannya juga lebih cepat dibanding operasi lain, misalnya laparotomi yang membutuhkan sayatan lebih lebar.

Pada kasus infertilitas, biasanya operasi Laparoscopy ini dibutuhkan untuk mengatasi masalah seputar rahim, indung telur, dan tuba. Juga pada banyak kasus, biasanya laparoscopy ini dilakukan untuk mengatasi masalah perlekatan di seputar rahim dan tuba yang sering membuat tuba menjadi buntu dan kehilangan fungsinya.

*****
Dan kali ini saya akan sedikit berbagi cerita pengalaman saya saat menjalani operasi Laparoscopy. 

Saat hari saya mendapat haid, saya langsung menghubungi dokter yang ahli Laparoscopy di kota Semarang, yaitu dr. Syarief Thaufik Hidayat, SpOg (KFER).
Sebelumnya, saya memang sudah mendapat info dari seorang teman yang juga pernah menjalani Laparoscopy dengan beliau, dan setelah itu dia berhasil memiliki seorang anak.

Setelah mendapat penjelasan tentang laparoscopy, dokter langsung memberi saya surat pengantar. Kali ini saya ambil tempat operasinya di RS Panti Wilasa, Jl.dr cipto semarang, karena beliau juga praktek disana. 

Kenapa saya ambil disana? karena menyesuaikan dana yang ada, (hehe..)
Setelah satu minggu sebelumnya saya datang berkonsultasi dengan dokter, akhirnya saya membuat janji dengan dokter dan Rumah Sakit setempat, bahwa saya akan menjalani operasi Laparoscopy tanggal 2 November 2012.

Oh ya, laparoscopy ini bisa dilakukan kapan saja asal tidak dalam kondisi sedang haid.


Operasi LAPAROSCOPY

Tibalah hari yang ditunggu.

1. Persiapan Operasi
1 November  - Jam 15.00 sore, berangkatlah saya dan suami menuju rumah sakit. Langsung daftar rawat inap, menyerahkan surat pengantar untuk laparoscopy, juga berkas hasil HSG. Membayar pendaftaran rawat inap, dan memesan ruang inap kelas-2.
Sambil menunggu ruang dipersiapkan, saatnya dimulai pengambilan sample darah untuk pemeriksaan laboratorium. Juga tes alergi, dan lain-lain.
Dan suami juga diminta untuk menanda-tangani surat-surat persetujuan tindakan operasi yang bermeterai.

Pemeriksaan kadar Hb (Hemoglobine) juga dilakukan, karna ini penting untuk persiapan operasi. Karena jika Hb rendah maka operasi akan ditunda dan harus menjalani transfusi darah terlebih dahulu supaya Hb menjadi normal.
Seperti pengalaman teman yang waktu itu akan menjalani laparoscopy dengan Hb yang rendah, yang akhirnya operasinya ditunda satu hari untuk transfusi darah terlebih dahulu.

Dan Puji Tuhan,..karena kadar Hb-ku normal, jadi tidak perlu transfusi darah.
(Jadi untuk teman-teman yang mau melakukan operasi Laparoscopy ini, pastikan dalam kondisi badan sehat ya..)

Setelah hampir 1 jam menunggu, akhirnya kamar sudah siap dihuni..
Langsung ganti baju dengan baju yang saya bawa dari rumah karena belum dapat seragam kebesaran pasien..(hehe..) jadi masih serasa dirumah.

Malamnya, masih bebas mondar-mandir, ke kamar kecil, dan masih bisa memperhatikan pasien-pasien disebelah (karna ruangan yang saya ambil adalah Ruang kelas-2, berisi 4 bed pasien). Belum merasakan apa-apa, bahkan belum ada rasa takut sedikitpun. Orang-orang disebelah juga sepertinya pada bingung,  lho..kenapa saya dirawat inap, sepertinya tidak terlihat sakit, dan sehat walafiat!
(Hhmm..tunggu tanggal mainnya..)

2 November - Malam sebelumnya, perawat memberi saya obat untuk diminum jam 04.00 pagi. Obat ini untuk membantu melancarkan buang air besar, karena sebelum operasi perutku sudah harus dikuras sampai kosong.
Jam 04.00 pagi, obat sudah kuminum. 

Jam 05.00 pagi perawat datang membawa segelas besar susu sapi segar hangat untuk langsung diminum, karena mulai jam 6 pagi saya harus sudah mulai puasa, jadi tidak mendapat sarapan, hanya segelas susu.
Setelah mondar-mandir ke kamar kecil, perut sudah mulai terkuras, sudah mandi dan dandan wangi tentunya...(hehe), beberapa perawat masuk dengan membawa beberapa  peralatan. 

Naah,..ini nih yang bikin jantung mulai dag-dig-dug.
Pertama, saya disuruh ganti dengan baju pasien warna hijau, tanpa underwear.
Lalu disuruh tiduran, dan perawat mulai mempersiapkan alat-alat sambil ngobrol :

Perawat : " Nanti operasinya jam 11 siang ya bu.."  
Saya       : "iya sus,.." 
Perawat : " sekarang saya pasang dulu infusnya sama kateternya ya bu.."  
Saya       : "iya sus,.." (pasrah)

Setelah jarum infus terpasang, meski sedikit agak susah cari-cari uratnya sampai harus ganti posisi 2 kali, tapi tidak apa-apa...(kalo masalah jarum infus mah keciil... Lanjut sus!)
Kateterpun dipasang,.. alamaaak!  kalau disuruh memilih, saya lebih memilih ditusuk jarum infus 10 kali atau 15 kali... tapi yang namanya dipasang kateter, huulalaaa...



Setelah saya terbaring tak berdaya, suami pun datang. Karena malamnya dia pulang dan tidur nyenyak di rumah.
Jam 10.00 pagi, jantung mulai bergerak cepat. Jujur, saya sudah mulai takut luar biasa. Bukan tentang operasinya, karena saya yakin tidak akan merasakan apa-apa karena akan dibius total. Tapi justru saya takut biusnya itu lho...(hiks)
Suami pegang tanganku dan bilang, " doa dulu, yank.."    
" duuh,..sepertinya sudah tidak bisa mikir apa-apa deh.." jawabku.

Untungnya, dari pagi saya mendengar alunan lagu-lagu rohani dari speaker ruangan yang tiba-tiba memberiku kekuatan, ketenangan. Thanks God, Engkaulah kekuatanku..
Terima kasih juga buat pihak Rumah Sakit, ternyata meskipun terdengar sayup-sayup tapi sanggup memberi ketenangan buat pasien. Terlebih ada bagian pelayanan khusus yang datang mendoakan untuk kelancaran operasi saya.

Jam 11.00 , perawat datang dan menyampaikan kabar kalau dr.Syarief sedang menangani pasien yang melahirkan sesar, jadi jadwal operasi saya agak terlambat.
Jam 12.00 , perawat kembali datang. Tapi kali ini memanggil namaku untuk bisa masuk ke ruang operasi (eng ing eeng..)
Dengan dibantu beberapa perawat, saya dipindah ke bed yang lain. Duuh, kenapa badanku jadi kaku begini? Hanya karna ada infus dan kateter saja masa sampai merasa tak berdaya begini...(hihi)
Berdoa terus ya suamiku...

2. Masuk Ruang Operasi
Jam 12.00 (siang), saya mulai didorong ke ruang operasi. Tak henti-hentinya saya berdoa dalam hati, sambil sekilas saya lihat diatas pintu masuk ruang operasi ada papan bertuliskan 'Tetaplah Berdoa'..
Sampai di dalam ruangan operasi, saya ganti bed lagi (mungkin ini bed khusus untuk operasi).

Selanjutnya saya dibawa masuk lagi ke ruangan yang benar-benar inilah ruang operasi. 
This is it..! Segala macam peralatan medis yang asing bagi saya (karena ini pengalaman pertama operasi) ada disekeliling saya, juga lampu-lampu sorot yang besar-besar. Beberapa perawat wanita dan perawat laki-laki mondar-mandir menyiapkan segala sesuatunya. Tapi tak juga saya lihat wajah dr.Syarief yang akan mengoperasiku. Yang datang kemudian adalah dokter anestesi. Lalu mulailah dokter itu memberi suntikan lewat infus, dan saya yakin inilah saatnya saya dibius... 

" Merem saja ya bu...karna suntikannya nanti bikin sedikit agak pusing.." kata dokter.
Itulah kata-kata terakhir yang saya dengar. Sambil terus komat-kamit baca doa, saya mulai merasakan badan serasa kesemutan, suara-suara juga sudah terdengar agak jauuh..pelan...lalu...ZzZzz...

Saat saya mulai sadar, pertama yang saya rasakan adalah dinginnya oksigen di hidungku, dan meski agak berat saya berusaha menggeser tangan saya. Pertama yang ingin saya raba adalah bagian perut (meskipun baru saja tak sadarkan diri karna efek bius, dan mata masih sayup-sayup....bukan berarti saya bangun dan amnesia...(hehe..) tetep ingat saya baru saja selesai di-operasi!).

Ternyata sudah terasa ada plester yang menempel pas di pusar, beberapa centimeter sebelah kiri pusar, dan satu lagi agak kebawah sebelah kiri juga. Jadi saya mendapat 3 lubang bekas operasi (Operasi laparoscopy ini hanya membutuhkan 3-4 lubang kecil di perut dan pusar). 
Akhirnya lega, ternyata operasi sudah selesai, dan saya sudah di ruang pemulihan.
(Thanks God, You wake me up already..)

Suara-suara juga sudah mulai terdengar. Pelan-pelan saya buka mata dan yang pertama saya lihat adalah jam dinding yang menunjukkan pukul 14.00 
Jadi butuh waktu 2 jam untuk tindakan operasi dan pemulihan.
Perawat melihat kalau saya sudah sadar, lalu saya didorong kembali masuk ruang rawat.
Sudah saya dengar suara suami, dan suara perawat yang mengatakan kalau saya boleh minum setelah benar-benar sadar. 
Karena masih ngantuk, tidur lagi ah...

3. Selesai Operasi
3 November - Hari ini adalah hari pemulihan pasca operasi. Saya masih terbaring tak berdaya. Infus dan kateter masih terpasang, jadi belum bisa apa-apa. Makan juga disuapin suami. Tidur seharian membuat punggung saya pegal semua. 
Semoga semua cepat berlalu..

Sorenya, dr.Syarief melakukan kunjungan pasien. Pas, suami baru saja keluar mencarikan saya kue pao isi coklat yang saya minta. Jadilah cuma saya sendiri yang mendengarkan penjelasan dokter. 

Dokter bilang, kalau saluran tuba saya sudah bagus semua. Kista yang selama ini tampak di foto HSG, ternyata kista yang berisi cairan coklat dan sudah diangkat, beserta perlengketan yang terbilang parah di saluran kiri, juga sudah dibereskan!  
(Puji Tuhan..)

Dan dokter juga sudah langsung memberikan suntikan anti perlengketan. Jadi suntikan ini untuk mencegah agar tidak terjadi perlengketan kembali.

4. Pulang dari Rumah Sakit
4 November - Hari ini saya boleh pulang. Yiippii....
Pagi-pagi suami sudah mengurus segala sesuatunya. Tagihan sudah dibayar, juga resep-resep obat yang untuk diminum nanti di rumah, tinggal menunggu surat ijin pulang.
Perawat juga sudah melepas semua 'beban' saya selama ini, yaitu infus dan kateter. 
Lega, dan saya siap pulang... 

(Jadi saya menjalani rawat inap selama 3 hari, 2 malam, untuk laparoscopy ini)
Untuk biaya operasi Laparoscopy yang saya jalani ini total kurang lebih 14 juta rupiah. (Ini biaya standart/sedang yang saya ambil).

Dan ini adalah biaya untuk rawat inap selama 3 hari, biaya operasi dan semua perlengkapan yang dibutuhkan selama operasi, dan juga ada obat/ injeksi untuk anti perlengketan yang dipakai langsung saat operasi. (Biaya bisa berbeda, tergantung fasilitas yang dipakai, misalnya ruang rawat inap, dan lainnya. Juga untuk beda tempat /Rumah sakit juga pastinya akan berbeda biaya dan fasilitas).

5. Pasca Operasi Laparoscopy 
Pasca menjalani operasi Laparascopy, saya melalui hari-hari pemulihan di rumah. Masih tidak bisa dan tidak boleh beraktivitas terlalu banyak.
Oh ya..sepulang dari rumah sakit,  saya masih mengeluarkan sedikit darah di missV, kemungkinan itu darah sisa operasi. Sesampai di rumah selang dua hari darah keluar bertambah banyak, dan kemungkinan saya lanjut keluar haid. 

Satu minggu kemudian datang berkonsultasi ke dokter dan sudah bisa lepas plester yang ada di tiga bagian.
Tadinya agak ngeri juga membayangkan seperti apa berkas lubang operasinya ya? 

Tapi ternyata, bekas luka operasi itu keciiil sekali
Karena hanya butuh 1-2 jahitan di setiap lubang, itupun jahitnya dibawah kulit, lalu kulit luarnya seperti di 'lem' sangat rapi.

Dan setelah saya perhatikan, bekas luka laparoscopy itu hanya terlihat seperti goresan kecil saja. Dan dokter mengganti dengan plester yang baru.
Jadi teman-teman yang belum pernah dan akan menjalani laparoscopy ini jangan takut ya,...nanti juga akan dikasih resep obat saleb untuk penghilang bekas luka.
Hampir dua minggu badan masih saja lemas, seakan hilang tenaga. 
 
Info penting untuk dibaca :
Saluran Tuba Yang Buntu, Apakah Ada Tanda-tanda Yang Dirasakan?
2 Jenis Kista Penyebab Ketidaksuburan
Sudah Siapkah Memiliki Bayi?


******
Program Hamil Pasca Operasi Laparoscopy
 
1. Program Bulan Pertama Setelah Laparoscopy
Tgl 4 Desember - Hari pertama haid, saya langsung daftar untuk ceck-up ke dokter. Saya putuskan untuk melanjutkan program hamil ini bersama dr.Syarief Thaufik ,SpOG(KFER), dokter yang juga mengoperasi saya.

Tapi untuk melanjutkan program ini saya memilih tempat di RSIA Hermina Pandanaran Semarang. Selain tempatnya yang tidak terlalu jauh dengan tempat kerja suami, dr. Syarief juga praktek setiap hari dari senin sampai sabtu, jadi saya bisa mudah menyesuaikan waktu untuk periksa.

Setiap kali datang, jangan tanya antriannya... Pasiennya banyak dan saya selalu dapat nomor antrian diatas 25. 
Kali ini saya mendapat obat pemacu ovulasi untuk diminum selama 5 hari, mulai hari ke-3 haid. Lalu dijelaskan masa suburnya, diberi resep obat penguat kandungan dan vitamin untuk diminum mulai masa subur.
Bulan ke-1 ini masih dianjurkan alami dulu. 
Dan ternyata,..belum berhasil.


2. Program Bulan Kedua Setelah Laparoscopy
Tgl 1 Januari, Haid datang. Saya kembali datang ke dokter. Tapi berhubung saya mendaftar dadakan untuk tgl 2 antrian sudah habis sampai 1 minggu kedepan. Duh, gimana nih... Akhirnya saya menjelaskan ke bagian informasi bahwa saya masih mengikuti program hamil dan awal haid saya harus bertemu dengan dokter. Dan saya disuruh untuk datang lagi esok hari.


Tgl 2 Januari, saya dan suami datang lagi ke Rumah Sakit dan ternyata sudah tidak bisa menerima pasien, karena hari itu antrian sudah mencapai 40 nomor!

Padahal saya sudah menunggu 2 jam. Akhirnya suster bilang saya boleh daftar untuk besoknya. Jadilah saya langsung menuju resepsionis dan mendapat nomor antrian 26 untuk esok hari.

Tgl 3 Januari, saya dan suami balik lagi ke RSIA Hermina, bertemu dokter. Masih mendapat obat yang sama, obat pemacu ovulasi dan vitamin untuk saya dan ada obat untuk suami. Hmm...ternyata obatnya suami yang mahal!

Hari ke-12 dari haid, ada pemeriksaan USG-tranV untuk melihat perkembangan sel telur.


Karna saya haid mulai tgl 1, maka tgl 12 saya datang untuk menjalani USG cek sel telur. Pemeriksaan dimulai.." wah telurnya banyak,bu.. ibu lihat sendiri ya, " kata dokter. 

Dan memang saat saya lihat di layar monitor ada tiga sel telur di sebelah kanan dengan ukuran 22mm - 22mm - 23mm. Dan disebelah kiri ada satu dengan ukuran 21mm. Ketebalan rahim 9,1mm (kata dokter, ketebalan rahim minimal 7mm untuk bisa hamil).
Jadi jumlah total sel telur yang sudah terbilang matang ada 4 buah (ukuran sel telur yang diharapkan bisa ovulasi minimal 18mm). 

Dokter menyarankan untuk inseminasi, tapi berhubung masih belum siap, saya putuskan untuk mencoba konsepsi alami saja dulu.
Inilah gambaran hasil USG-Transv (cek sel telur) :

Tgl 29 Januari, saya mendapat haid...itu berarti program bulan ini masih belum juga berhasil. So sad, empat telurku terbuang sia-sia. Padahal saya sudah optimis banget bakal hamil bulan itu, karena saya pikir dari 4 sel telur yang matang harusnya ada salah satu yang mungkin bisa dibuahi. Tapi mengapa tak satupun yang berhasil dibuahi.

Akhirnya, setelah berkonsultasi dengan dokter, kami memutuskan untuk mencoba Inseminasi.

*Selanjutnya, adalah usahaku dengan mencoba .. Inseminasi ke-1 


Sebagai Admin sekaligus Penulis blog CERITAINFO. Seorang wanita biasa yang juga pernah menjalani berbagai program dan perawatan kesuburan. Dengan menulis artikel-artikel mengenai kesehatan dan kesuburan di blog ini, berharap semua wanita bisa lebih memahami tentang seluk-beluk masalah kesuburan dan kesehatan dirinya dengan lebih baik.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

12 komentar

Write komentar
Anonim
07 Maret, 2014 21:20 delete

Mbak febe, salam kenal yaa...kebetulan sy jg didiagnosa mengalami penyumbatan saluran rahim sblh kiri dan oleh sebab itu menjadi sulit utk hamil, dokter memberikan 2 opsi yaitu oprasi laparoscopy dan bayi tabung, tapi dokter ttp menyarankan opsi yg pertama, yg sy ingin tanyakan setelah mbak febe melakukan operasi dan inseminasi apakah sdh ada hasilnya? Sy sdh inseminasi jg cm tdk berhasil :( kebetulan sy program baby d hermina semarang dgn Dr. Fadjar, mohon info selanjutnya setelah mbak operasi dong mbak :) ᵗʰᵃᶰᵏᵧₒᵤ ⌣̈ yaaa...

Reply
avatar
08 Maret, 2014 18:30 delete

Lebih baik dicoba dulu utk opsi pertama (laparoscopy).
Aku malah saluran buntu dua2nya...setelah laparoscopy hasilnya bgs dan saluran udah terbuka, ini terbukti dari hsl inseminasi 3x sudah terjadi pembuahan (berarti saluran udah lancar)...hanya memang mungkin blm rejekinya aja, insemku msh blm berhasil..hehe..
Tp kl kamu udah siap utk bayi tabung ya gpp sih,...btw apapun nanti opsi yg diambil, semangat yaa...good luck n GBU.

Reply
avatar
Anonim
20 Maret, 2014 06:23 delete

Proses laparoscopy sakit gk mbak? "̮♡hϱϱ♡hϱϱ♡hϱϱ♡"̮..,klo boleh tau mbak febe abis brp utk biaya operasinya? utk bayi tabungnya dokter blg klo dipaksakan tingkat keberhasilannya kecil sekali mengingat cairan yg menyumbat di saluran itu membunuh setiap sperma yg masuk :( sy baru akan kontrol lg dan konsul ttg laparoscopynya setelah selesai menstruasi bln ini mbak, btw biaya insem jg kan mahal mbak febe apalagi mbak udh bbrp kali insem kok gk cb bayi tabung sj? Siapa tau krn sdh d operasi bs langsung jadi dan kembar :)

Reply
avatar
25 November, 2014 18:26 delete

namaku ana, apakah 14 juta itu sudah semua sampai keluar dari RS?
terima kasih infonya

Reply
avatar
nury rysranti
07 Desember, 2014 13:13 delete

mbak febe saya mau tanya apa obat2 n multivitamin yg diresepkan oleh dr. syarif selalu mudah didapat mbak? belinya di apotik mana mbak? makasih infonya. please replay

Reply
avatar
17 Desember, 2014 09:04 delete

Halo mba rizkiana...

Maaf baru balas, iya mba..14jt itu udah total biaya perawatan+operasi s/d keluar RS... Tp blm termasuk biaya cek kesehatan sebelum masuk rawat inap (seperti cek darah Hb, dsb)

Reply
avatar
17 Desember, 2014 09:07 delete

Halo mba nury rysranti...

Maaf baru balas,...kalao aku biasanya obat yg dari dr.syarief lsg aku tebus di RS hermina setempat.
Pernah coba cari di apotik lain tp agak susah, terutama obat yg utk suami.

Reply
avatar
23 Januari, 2015 11:41 delete

Mbk...maaf apakah saluran tuba mbk sebelumnya non paten atw tersumbat juga...gimana caranya membuka sembatannya

Reply
avatar
26 Februari, 2015 12:34 delete

mbak, setelah operasi mengalami mundur haid gak? atau tetep lancar sama tanggal seperti bulan sebelumnya?

Reply
avatar
27 Februari, 2015 20:47 delete

@ bumadi

waktu laparoscopy aku sengaja ambil harinya menjelang haid.. jadi brp hari setelah laparoscopy lsg kluar haidnya..
Bln berikutnya seingatku jadwal haidnya gak ada masalah, dan gak pernah mundur haid mbak..

Reply
avatar
28 Februari, 2015 07:32 delete

syukurlah lancar berarti. sama sih mba.. aku jg operasi 10 hari sebelum haid, dan blm dapet haid ampe skr, iseng2 pake testpack muncul garisnya 2.

waaa.. beneran gak ya, apa di PHP in ama hasil testpack o_O

mba febe gmn? udah berhasil blm program nya?

Reply
avatar
Anonim
14 Mei, 2015 08:21 delete

Mbk febe mw nanya setelah oprasi LO ndak suntik tapros selama 6 bulan biar g dpt mens? Skrg promil smpe mana mb? Mksh infonya mb febe

Reply
avatar

Pertanyaan dan komentar Anda akan segera muncul setelah ditinjau, dan akan segera kami balas. Terima kasih. EmoticonEmoticon